49Klik terus tulisan ”run!!” sampai kepitingnya hilang 50.Tekan angka ”1” di keyboard 51.Lolosin kuncinya,jangan kena area berwarna hitam (Biasanya ada tulisan disitu) 52.Drag tanda (-) Ke tulisan level menjadi 5-2 terus di klik 53.tekan ”S” di keyboard 54.Klik ”5” 55.Ketik ”Anini” di keyboard Tulisanini melihat pilar-pilar pokok demokrasi dan nilai-nilai Islam yang “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-arab, kulit putih atas kulit hitam, kecuali taqwanya “afala ta`qilun” dan “afala tatafakkarun”. Ayat-ayat ini menyuruh manusia untuk berpikir yang berarti juga memberikan kebebasan berpikir. Namun, kebebasan Menurutahli bahasa Syekh Musthafa al-Ghulayaini, tata bahasa Arab klasik terbagi menjadi 13 cabang ilmu, yaitu: [1] ilmu sharaf (pembentukan kata) ilmu i'rab (perubahan akhir kalimat) ilmu rasam (tulisan) ilmu ma'ani. ilmu bayan. ilmu badi'. ilmu 'arudh. ilmu qawafi. Pengelompokanyang ketiga berdasarkan kaitannya dengan agama. Dia membedakan ilmu-ilmu syar’iyyah dan ilmu-ilmu ‘aqliyyah. Klasifikasi al-Ghazali yang terakhir adalah hukumnya, yaitu ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Berdasarkan klasifikasi al-Ghazali ini, sains bersifat husuli, ‘aqliyah, dan fardhu kifayah. c. Landasan Kelembagaan. Maksudberfikir dengan kalimah “ afala tatafakkarun” berfikir tentang semua kejadian yang allah telah cipta. menyelidik dan mengkaji ciptaan allah di bumi dan di langit menggunakan ilmu. Dari : Bonda JJ ( Bekas Ustazah SBP Bandar Penawar, Johor ) ===== Katasaya: Bukanlah seseorang itu seorang manusia jika tiada terkesan hatinya membaca tulisan sedih ini. Saudara kita di Palestin dikelar-kelar bagai tiada perikemanusiaan oleh manusia-manusia yang bertopengkan syaitan!! Bayangkan keadaanmu di sana, di ketika itu. Kamu lihat ibumu disepak-sepak bagai bola selepas dikelar kepalanya. . Ketua Yayasan Fahmina Cirebon, KH. Husein MuhammadOleh KH. Husein MuhammadJika kita tidak mau berpikir, memikirkan atau bahkan anti intelektualisme, maka kita harus menerima ketertinggalan dan keterpurukan nasib kita. Kita akan terus tertinggal dan termarjinalkan dari panggung sejarah sesungguhnya terus menerus mendorong umatnya untuk selalu berfikir dan memikirkan sesuatu dan hal di dalam diri dan di alam semesta ciptaan Tuhan ini. Berkali-kali al-Qur’an menyebutkan “Afala Tatafakkarun” apakah kamu tidak memikirkan, “Afala Ta’qilun”,apakah kamu tidak menggunakan akalmu, “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?.Kepada khususnya bangsa Arab Al-Qur’an mengatakan dan Nabi diminta untuk mengingatkan merekaأَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ. فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. Al-Ghasyiyah, 17-20.Pada ayat lain Allah menegaskan seraya menegur orang-orang yang rajin membaca atau menghapal al-Qur’an tetapi tidak mempelajari atau memahami isinyaافلا يتدبرون القران ام على قلوب اقفالها“Afala yatadabbarun al-Qur’an Am Ala Qulubin Aqfaluha”.Apakah kalian tidak memikirkan/merenungkan isi al-Qur’an, atau hati mereka terkunci”. Muhammad, 24.Menarik sekali redaksi yang digunakan untuk menyampaikan perintah berpikir itu. Redaksi “Apakah tidak”, merupakan bentuk kritisisme al-Qur’an yang sangat tajam. Ia sedang menyindir mereka yang tak mau berpikir, merenung dan memperhatikan kehidupan. Dalam ilmu sastra Arab disebut “Istifham Inkari“. Seakan-akan Allah mengatakan “kalian kok tidak berfikir. Ayo berpikir atau pikirkanlah”.Ayat-ayat di atas kini atau bahkan sudah sangat lama seperti tak lagi memeroleh perhatian yang sungguh-sungguh dari kebanyakan kaum muslimin. Mereka terkesan mengabaikannya. Aktifitas intelektual mereka berhenti ada kecenderungan baru yang menunjukkan sebagian kaum muslimin anti dialektika intelektual. Ada stigma negatif terhadap penggunaan logika rasional. Teks suci harus diikuti makna tekstualitasnya, bukan rasionalitasnya. Sekelompok kaum muslimin malahan menganggap kreatifitas dan inovasi sebagai kesesatan atau populer disebut “bidah”.Ada pula kelompok yang anti pendapat lain yang berbeda. Mereka hanya memercayai/membenarkan pendapat dirinya saja, sedang pendapat orang lain salah atau malah “kafir”. Lebih dari itu ada pula kelompok umat Islam yang anti produk pikiran dari Barat atau dari “liyan”, seperti “demokrasi”, “human right”, “nation state” negara bangsa, Bukan hanya produk konseptualnya, malahan juga produk teknologinya. meski hari-harinya mereka menjalani sekaligus menikmati produk-produk kita tidak mau berpikir, memikirkan atau bahkan anti intelektualisme, maka kita harus menerima ketertinggalan dan keterpurukan nasib kita. Kita akan terus tertinggal dan termarjinalkan dari panggung sejarah dunia. Kita menjadi konsumen dari produk intelektual dan teknologi orang lain. Ini semua merupakan konsekuensi paling logis yang harus jika kita ingin menjadi bangsa yang jaya, tak ada cara bagi kita kecuali kembali kepada kritik al-Qur’an di atas agar menjadi umat yang berpikir kritis, produktif, terbuka, menggunakan anugerah akal untuk berpikir dan memikirkan ciptaan Tuhan, merefleksikan, mengeksplore dan mengelolanya bagi kesejahteraan umat manusia. Ayo berpikir, jangan emosi. Ayo merenungkan, jangan hanya menghafalkan. Manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan⁣ Untuk menjadi khalifah di bumi manusia⁣ Otak diciptakan sempurna untuknya⁣ Supaya berpikir mampu dilakukannya⁣ ⁣ Allah menuliskan cerita hidup manusia dengan berbagai macam perbedaan. Sebagian manusia merasakan manisnya hidup sejak ia dilahirkan. Sebagian lainnya dilahirkan dengan kondisi yang cukup menyedihkan. Pada setiap kejadiannya, Allah pasti menyisipkan hikmah supaya manusia mampu berpikir. ⁣ ⁣ Dalam kadarnya, manusia memiliki emosi jiwa dalam dirinya. Ketika terjadi suatu hal dalam dirinya, ia memiliki otak untuk memikirkan. Supaya terhindar dari mara bahaya. Supaya tak terjebak dalam kesalahan yang sama. ⁣ ⁣ Otak, anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Namun sebagai manusia, apakah kita telah menggunakan otak sebagaimana fungsinya? Apakah kita telah memaksimalkannya dalam kehidupan kita? Dalam al-qur'an, Allah bertanya "afala ta'qiluun, afala tatafakkarun" yang artinya apakah engkau tidak berpikir? Apakah engkau tidak menggunakan otakmu? Kalimat yang menjadi teguran untuk kita sebagai hamba Allah.⁣ ⁣ Afala ta'qiluun, afala tatafakkarun. Kalimat yang mempertanyakan apakah kita telah memanfaatkan anugerah otak yang telah diberikan Allah kepada kita? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Dalam kalimat itulah Allah menganjurkan supaya kita mampu menggunakan otak untuk berpikir. Supaya mampu berpikir setelah membaca, ataupun setelah melihat sesuatu. Supaya kelak kita mampu bertindak melalui proses berpikir sebelumnya. Sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah.⁣ أفـلا تـتـفـكـرون، الـرسـالـة الـسـابـعـة عـشـرة لـ الـجـلـيـّل ، عـبـد الـعـزيـز بن نـاصـر Afalā tatafakkarūn, al-risālah al-sābiah ashrah by Julayyil, Abd al-Azīz ibn Nāṣir Issue Year 2005 Our Price $ More from this author More from this publisher Email this page to a friend * required fields BUY THIS ITEM NOW < Shipping & handling policy < 7 day returns policy Usually ships within 12 weeks Bibliographic details Edition al-Ṭabah 1. Published/Created al-Riyāḍ Dār Ṭaybah lil-Nashr wa-al-Tawzī, 2005. Description 455 pages ; 25 cm. Language Arabic. Binding Hardcover. ISBN 9960891534. Series Silsilat Waqafāt Tarbawīyah fī ḍaw’ al-Qur’ān al-Karīm, 17 Subject Faith and reason - Islam. Bought together same series titles Add all to basket Total Price $ Total Shipping $ Series Silsilat Waqafāt Tarbawīyah fī ḍaw’ al-Qur’ān al-Karīm, 17 Customers who bought this item also bought al-Muthaqqafūn fī al-ḥaḍārah al-Arabīyahby al-Jābirī, Muḥammad Ābid$ al-waṭanī wa-qaḍāyā al-taṭarruf wa-al-ghulūwby al-Idārah al-Āmmah lil-Mahrajān$ alá manhaj Muḥammad Amīn Shaykhūby al-Rāghib, Aḥmad Ismāīl$ al-nafs wa-al-jasadby al-Ḥarīrī, Abū Mūsá$ al-ḍamīr al-fardī wa-maṣīr al-Islām fī al-aṣr al-ḥadīthby al-Ḥaddād, Muḥammad$ naṣīḥat al-Rifāīby al-Dubayyān, Alī ibn Rāshid$ al-aql al-Muslimby Abū Shaqqah, Abd al-Ḥalīm$ al-Islāmīyah fī khaṭṭ al-faālīyah al-ḥaḍārīyahby Barghūth, al-Ṭayyib$ al-salaf fī fahm al-nuṣūṣ bayna al-naẓarīyah wa-al-taṭbīqby al-Mālikī, Muḥammad ibn Alawī$ al-mujaddidīnby Ḥamzah, Muḥammad$ its foundations and conceptsby Al Suhaym, Muhammad bin Abdullah$ al-muntaqāh min kalām shaykh al-Islām Muḥammad ibn Alī al-Shawkānīby al-Shawkānī, Muḥammad ibn Alī$ al-athar fī al-mawāqif wa-al-ibarby Iskandarānī, Khālid ibn Ibrāhīm$ al-Sharq wa-al-Gharb, al-Islām huwa al-ḥallby Atrīsī, Jafar Ḥasan$ wa-al-ṣirāṭ wa-al-mīzān fī al-Qur’ān al-Karīm wa-al-Sunnah al-Nabawīyahby al-Janābī, Murād Abd Allāh$ Jāmi bayān al-ilm wa-faḍlihi wa-mā yanbaghī fī riwāyatihi wa-ḥamlihby Ibn Abd al-Barr, Yūsuf ibn Abd Allāh$ al-fahm al-ṣaḥīḥ lil-dīn al-Islāmīby Muḥammad, Muḥammad Muḥammad Aḥmad$ uṣūlīyahby Ajamī, Ḥasan$ al-fikr al-dīnī awwalanby Isḥāq, Yaqūb Muḥammad$ al-Islāmīyūn wa-as’ilat al-nahḍah al-muāqahby al-Qudaymī, Nawwāf$ Dastaghīb, Abd al-Ḥusayn$ al-baḥth wa-al-munāẓarahby al-Shinqīṭī, Muḥammad al-Amīn$ ilá al-tafkīrby al-Ṣarrāf, Zuhayr$ al-istibdād al-siyāsī fī risālat al-shaykh al-Nā’īnīby Ṣāliḥ, Muḥammad Aḥmad$ bayna al-tanẓīr wa-al-taṭbīqby Muntadá al-Fikr al-Arabī$ al-lubāb fī radd al-fikr ilá al-ṣawābby al-Mughaylī, Muḥammad ibn Abd al-Karīm$ Probleme de idees dans le monde Musulmanby Bennabi, Malek$ al-dīn wa-ḥamalatihi wa-rijālihby al-Sadī, Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir$ ḥujaj al-tawḥīd fī mu’ākhadhat al-abīdby Āl Farrāj, Midḥat ibn al-Ḥasan$ wa-al-Islāmby Sharīatī, Alī$ Look for similar items by category 1. al-Usus al-mibnā’īyah lil-irfān wa-alāqatuhu maa al-sharīah by Shuqayr, Muḥammad الأسـس الـمـبـنـائـيـة لـلـعـرفـان و عـلاقـتـه مـع الـشـريـعـة لـ شـقـيـر ، مـحـمـد 2. al-Dīn wa-al-ilm by al-Fayyāḍ, Zayd ibn Abd al-Azīz الـديـن و الـعـلـم لـ الـفـيّـاض ، زيـد بن عـبـد الـعـزيـز 3. Asālīb al-taāmul maa al-khuṣūm fī ḍaw’ al-Sunnah al-Nabawīyah by al-Jazā’irī, Nūr al-Dīn Muḥammad al-Ṭāhir أسـالـيـب الـتـعـامـل مـع الـخـصـوم في ضـوء الـسـنـة الـنـبـويـة لـ الـجـزائـري ، نـور الـديـن مـحـمـد الـطـاهـر 4. Shakhṣīyat al-Muslim by Āmir, Muḥammad ibn Aḥmad شـخـصـيـة الـمـسـلـم لـ عـامـر ، مـحـمـد بن أحـمـد 5. Ru’á min ajl wāqi afḍal by al-Dāwūd, Jafar Yūsuf رؤى من أجـل واقـع أفـضـل لـ الـداوود ، جـعـفـر يـوسـف More items to consider 1. Khatm Sunan al-imām Abī Dāwūd by al-Baṣrī, Abd Allāh ibn Sālim خـتـم سـنـن الإمـام أبـي داود لـ الـبـصـري ، عـبـد الله بن سـالـم 2. Mashāriq al-shumūs fī Sharḥ al-durūs by al-Khuwānsārī, Ḥusayn مـشـارق الـشـمـوس في شـرح الـدروس لـ الـخـوانـسـاري ، حـسـيـن 3. al-Insān fī al-kawn bayna al-Qur’ān wa-al-ilm by Khiḍr, Abd al-Alīm Abd al-Raḥmān الإنـسـان فـي الـكـون بـيـن الـقـرآن و الـعـلـم لـ خـضـر ، عـبـد الـعـلـيـم عـبـد الـرحـمـن 4. al-Tafsīr al-Maẓharī by al-Maẓharī, Muḥammad Thanā’ Allāh الـتـفـسـيـر الـمـظـهـري لـ الـمـظـهـري، مـحـمـد ثـنـاء الله 5. Ilm al-akhlāq fī al-Kitāb wa-al-Sunnah wa-al-adab by al-Kharsān, Muḥammad Hādī Muḥammad Riḍā عـلـم الأخـلاق فـي الـكـتـاب والـسـنّـة والأدب لـ الـخـرسـان، مـحـمـد هـادي مـحـمـد رضـا Look for similar items by subject Faith and reason Faith and reason - Christianity Faith and reason - Islam Faith and reason - Islam Faith and reason - Islam - Early works to 1800 Faith and reason - Islam - Quranic teaching View items for all subjects View items for all selected subjects 24 July 2014 Afala tatafakkarun Buat orang-orang yang memperTUHANkan dalil, cuba renungkan Untuk apa Allah suruh kita berfikir jika dalil sudah lengkap semuanya ada dalam Al Quran?Nak tahu kenapa? Sebab Al Quran yang sebenarnya itu merupakan NUR bukannya tulisan dan NUR itu ada dalam diri masing-masing. “Afala tatafakkarun?” oleh IM at 1211 PM No comments Post a Comment Newer Post Older Post Home Subscribe to Post Comments Atom Hidup adalah tantangan. Dalam begitu banyak kesempatan Tuhan menantang manusia. “akankah mereka bisa berfikir jernih” –afala tatafakkarûn-. “bisakah mereka berhati dingin” –afala tatadabbarûn-. “dapatkah mereka memakai logika yang tepat”, –afala ta’qilûn-. Kata-kata di atas adalah penggalan firman Tuhan dalam kitab suci al-Qur’an. Biasanya kata-kata itu dijadikan pungkasan dari sebuah ayat. Setelah membahas satu tema, di akhir tema itulah penggalan kata itu diselipkan. Biasanya tema-tema yang diangkat adalah tema-tema sehari-hari. Tapi, tema-tema tersebut memilki tingkat kesulitan yang lumayan. Anasir lain yang juga unik adalah kata ummatan wahidatan. Artinya ummat yang satu atau satu kesatuan ummat. Dalam beberapa konteksnya kata itu biasanya dibarengi dengan kata ikhtalafa berbeda atau yang semakna. Maksudnya buat apa manusia geger dan rebut-ribut terus, wong kita satu atap, satu ummat dan satu bapak. Bahkan dalam pernyataan yang klimaks disebutkan bisa saja Tuhan menjadikan manusia “satu warna”, tapi jika itu terwujud, toh mereka juga masih saja akan ribut-ribut”. Itu pernyataan Tuhan. Bukan manusia. Artinya itu perkataan yang jujur 100%. Itu realita. Itu adalah watak. Itu adalah fitrah. Dan itu adalah karakter asli manusia. Mereka dicipta dalam keluarga yang satu tapi dengan karakter yang berbeda. Bukan berarti manusia dicipta untuk berbeda. Tetapi mereka dicipta berbeda-beda dari asal yang satu. Itulah tantangan Tuhan. Itu adalah pengakuan Sang Pencipta manusia. Dalam sebuah petuah nabi disebutkan “siapa yang tahu dirinya maka ia akan tahu Tuhannya”. Artinya manusia dianjurkan tahu karakter dirinya. Anatomi tubuhnya. Psikisnya. Tabiatnya. Dan dasar dirinya. Bahwa manusia itu dicipta dari tanah. Dari setetes air, dari segumpal darah, sekepal daging. Artinya, manusia dicipta dari cara dan bahan yang sama. Disisi yang lain manusia juga dicipta dengan watak yang sama yaitu berbeda yang bukan hanya pada bentuk fisiknya saja tapi juga pada pemikirannya. Bahwa manusia itu berbenika. Perbedaan adalah barang suci yang turun dari langit. Ia termanifes pada diri manusia. Makhluk terbaik dalam jagad. Konon beberapa saat menjelang dititahkannya manusia ke bumi, para malaikat protes. Bukankah manusia suka saling bunuh, kata malaikat. Saling tumpas. Dan saling rebut. Saling paksa. Dan saling memperkosa satu sama lain.? Sedang kami –kata malaikat- adalah lunak dan patuh. Bertasbih. Memuji dan memuja-Mu. Namun, Tuhan hanya membalasnya dengan sepenggal kalimat “Aku lebih tahu tantang apa-apa yang kalian tahu”. Malaikat pun tak kuasa berucap lagi. Rupanya malaikat telah paham akan konstruks manusia. Yang menurut mereka biang pertumpahan darah di bumi. Mereka egois. Mereka suka menjajah. Bagi malaikat, manusia bisa merusak tatanan bumi dengan watak imperialisnya. Manusia yang satu harus tunduk pada manusia yang lain. Baik tingkahnya, pemikirannya dan keyakinannya. Dan untuk itu darah pasti mengucur. Tapi setelah proses allama’ atau mengalimkan manusia, malaikatpun percaya akan masa depan manusia di bumi. Bahwa disamping sifat-sifat loba tadi, manusia memiliki kekuatan intelektual yang luar biasa. Betapa tidak, Tuhan telah bersabda wa allama Adama al-asma’a kullaha. Di sana ada kata kullaha yang menjadi taukid atau penguat. Bahwa manusia adalah makhluk dengan kecerdasan yang luar biasa. Itu adalah cerita yang sangat dulu. Saat manusia masih dua batang kara Adam dan Hawa. Artinya, dulu manusia adalah penghuni langit. Dan saat diturunkan ke bumi ia pun dibekali benda-benda langit ilmu, sifat-sifat dasar, wataknya yang berbeda dan lain lain. Tetapi, belum lama setinggalnya manusia di bumi. Setelah Adam dan Hawa bertemu. Setelah lahir Qobil dan Habil, bangsa manusia pun harus tunduk malu pada bangsa malaikat. Dugaan malaikat pun benar. Itulah pertumpahan darah pertama di bumi. Ternyata manusia pun gagal memanfaatkan benda-benda langit yang ada pada dirinya. Manusia tergiur oleh benda-benda bumi. Dimana ilmu yang telah disematkan pada manusia itu? Itulah problemnya. Di bumi, manusia bertemu dengan benda-benda bumi yang sekedar laibun’ wa lahwun’ permainan dan guyonan. Namun, benda-benda bumi itupun akhirnya diperebutkan dan diperjuangkan. Yang karena itulah benda-benda langit terlupakan. Manusia lupa bahwa ia adalah pintar. Ia lupa dengan dirinya sendiri. Pada tahapan selanjutnya, benda-benda bumi yang lain pun lahir. Dalam bahasa manusia ia biasa disebut dengan idiologi sebuah kata yang menunjuk pada sesuatu yang diyakini dan dianut. Ada pula politik sebuah nama yang biasa digunakan pada ranah kekuasaan. Ada juga ekonomi sebuah pesan yang menunjuk pada harta dan property. Dan masih banyak benda-benda bumi yang lain. Benda-benda inilah yang kemudian memberangus identitas manusia. Tetapi bisa jadi itu adalah alat untuk meneguhkan jati dirinya. Bahwa ialah yang patut diturut. Bahwa ialah yang layak berkuasa. Bahwa dia pula yang layak untuk mendapat harta. Maka, benar apa kata Tuhan. Bahwa dari sekian tantangan yang diberikan pada manusia hanya sebagian kecil yang bisa melewatinya. “tetapi, kebanyakan manusia tidak bisa berfikir sehat” –wa la kinna aktsarannasi la ya’qilun”. Itu kata Pencipta Manusia.

afala tatafakkarun tulisan arab